Archive for the ‘Sejarah’ Category

The Story Of Hachiko


2010
04.04

Lahir 10 November 1923 dari induk bernama Goma-go dan anjing jantan bernama ?shinai-go, namanya sewaktu kecil adalah Hachi. Pemiliknya adalah keluarga Giichi Sait? dari kota ?date, Prefektur Akita. Lewat seorang perantara, Hachi dipungut oleh keluarga Ueno yang ingin memelihara anjing jenis Akita Inu. Ia dimasukkan ke dalam anyaman jerami tempat beras sebelum diangkut dengan kereta api yang berangkat dari Stasiun ?date, 14 Januari 1924. Setelah menempuh perjalanan sekitar 20 jam, Hachi sampai di Stasiun Ueno, Tokyo.

Hachi menjadi anjing peliharaan Profesor Hidesabur? Ueno yang mengajar ilmu pertanian di Universitas Kekaisaran Tokyo. Profesor Ueno waktu itu berusia 53 tahun, sedangkan istrinya, Yae berusia 39 tahun. Profesor Ueno adalah pecinta anjing. Sebelum memelihara Hachi, Profesor Ueno pernah beberapa kali memelihara anjing Akita Inu, namun semuanya tidak berumur panjang. Di rumah keluarga Ueno yang berdekatan dengan Stasiun Shibuya, Hachi dipelihara bersama dua ekor anjing lain, S dan John. Sekarang, lokasi bekas rumah keluarga Ueno diperkirakan di dekat gedung Tokyo Department Store sekarang.

Ketika Profesor Ueno berangkat bekerja, Hachi selalu mengantar kepergian majikannya di pintu rumah atau dari depan pintu gerbang. Di pagi hari, bersama S dan John, Hachi kadang-kadang mengantar majikannya hingga ke Stasiun Shibuya. Di petang hari, Hachi kembali datang ke stasiun untuk menjemput.

Pada 21 Mei 1925, seusai mengikuti rapat di kampus, Profesor Ueno mendadak meninggal dunia. Hachi terus menunggui majikannya yang tak kunjung pulang, dan tidak mau makan selama 3 hari. Menjelang hari pemakaman Profesor Ueno, upacara tsuya (jaga malam untuk orang meninggal) dilangsungkan pada malam hari 25 Mei 1925. Hachi masih tidak mengerti Profesor Ueno sudah meninggal. Ditemani John dan S, ia pergi juga ke stasiun untuk menjemput majikannya.

Nasib malang ikut menimpa Hachi karena Yae harus meninggalkan rumah almarhum Profesor Ueno. Yae ternyata tidak pernah dinikahi secara resmi. Hachi dan John dititipkan kepada salah seorang kerabat Yae yang memiliki toko kimono di kawasan Nihonbashi. Namun cara Hachi meloncat-loncat menyambut kedatangan pembeli ternyata tidak disukai. Ia kembali dititipkan di rumah seorang kerabat Yae di Asakusa. Kali ini, kehadiran Hachi menimbulkan pertengkaran antara pemiliknya dan tetangga di Asakusa. Akibatnya, Hachi dititipkan ke rumah putri angkat Profesor Ueno di Setayaga. Namun Hachi suka bermain di ladang dan merusak tanaman sayur-sayuran.

Pada musim gugur 1927, Hachi dititipkan di rumah Kikusaburo Kobayashi yang menjadi tukang kebun bagi keluarga Ueno. Rumah keluarga Kobayashi terletak di kawasan Tomigaya yang berdekatan dengan Stasiun Shibuya. Setiap harinya, sekitar jam-jam kepulangan Profesor Ueno, Hachi terlihat menunggu kepulangan majikan di Stasiun Shibuya.

Pada tahun 1932, kisah Hachi menunggu majikan di stasiun mengundang perhatian Hirokichi Sait? dari Asosiasi Pelestarian Anjing Jepang. Prihatin atas perlakuan kasar yang sering dialami Hachi di stasiun, Sait? menulis kisah sedih tentang Hachi. Artikel tersebut dikirimkannya ke harian Tokyo Asahi Shimbun, dan dimuat dengan judul Itoshiya r?ken monogatari (“Kisah Anjing Tua yang Tercinta”;). Publik Jepang akhirnya mengetahui tentang kesetiaan Hachi yang terus menunggu kepulangan majikan. Setelah Hachi menjadi terkenal, pegawai stasiun, pedagang, dan orang-orang di sekitar Stasiun Shibuya mulai menyayanginya. Sejak itu pula, akhiran k? (sayang) ditambahkan di belakang nama Hachi, dan orang memanggilnya Hachik?.

Sekitar tahun 1933, kenalan Sait?, seorang pematung bernama Teru And? tersentuh dengan kisah Hachik?. And? ingin membuat patung Hachik?. Setiap hari, Hachik? dibawa berkunjung ke studio milik And? untuk berpose sebagai model. And? berusaha mendahului laki-laki berumur yang mengaku sebagai orang yang dititipi Hachik?. Orang tersebut menjual kartu pos bergambar Hachik? untuk keuntungan pribadi. Pada bulan Januari 1934, And? selesai menulis proposal untuk mendirikan patung Hachik?, dan proyek pengumpulan dana dimulai. Acara pengumpulan dana diadakan di Gedung Pemuda Jepang (Nihon Seinenkan), 10 Maret 1934. Sekitar tiga ribu penonton hadir untuk melihat Hachik?.

Patung perunggu Hachik? akhirnya selesai dan diletakkan di depan Stasiun Shibuya. Upacara peresmian diadakan pada bulan April 1934, dan disaksikan sendiri oleh Hachik? bersama sekitar 300 hadirin. And? juga membuat patung lain Hachik? yang sedang bertiarap. Setelah selesai pada 10 Mei 1934, patung tersebut dihadiahkannya kepada Kaisar Hirohito dan Permaisuri K?jun.

Selepas pukul 06.00 pagi, tanggal 8 Maret 1935, Hachik?, 13 tahun, ditemukan sudah tidak bernyawa di jalan dekat Jembatan Inari, Sungai Shibuya. Tempat tersebut berada di sisi lain Stasiun Shibuya. Hachik? biasanya tidak pernah pergi ke sana. Berdasarkan otopsi diketahui penyebab kematiannya adalah filariasis.

Opset tubuh Hachik? di Museum Nasional Ilmu Pengetahuan, TokyoUpacara perpisahan dengan Hachik? dihadiri orang banyak di Stasiun Shibuya, termasuk janda almarhum Profesor Ueno, pasangan suami istri tukang kebun Kobayashi, dan penduduk setempat. Biksu dari My?y?-ji diundang untuk membacakan sutra. Upacara pemakaman Hachik? berlangsung seperti layaknya upacara pemakaman manusia. Hachik? dimakamkan di samping makam Profesor Ueno di Pemakaman Aoyama. Bagian luar tubuh Hachik? diopset, dan hingga kini dipamerkan di Museum Nasional Ilmu Pengetahuan, Ueno, Tokyo.

Patung Hachik? di depan Stasiun ?datePada 8 Juli 1935, patung Hachik? didirikan di kota kelahiran Hachik? di ?date. tepatnya di depan Stasiun ?date. Patung tersebut dibuat serupa dengan patung Hachik? di Shibuya. Dua tahun berikutnya (1937), kisah Hachik? dimasukkan ke dalam buku pendidikan moral untuk murid kelas 2 sekolah rakyat di Jepang. Judulnya adalah On o wasureruna (Balas Budi Jangan Dilupakan).

Pada tahun 1944, di tengah berkecamuknya Perang Dunia II, patung perunggu Hachik? ikut dilebur untuk keperluan perang. Patung pengganti yang sekarang berada di Shibuya adalah patung yang selesai dibuat bulan Agustus 1948. Patung tersebut merupakan karya pematung Takeshi And?, anak laki-laki Teru And?.

Pintu keluar Stasiun JR Shibuya yang berdekatan dengan patung Hachik? disebut Pintu Keluar Hachik?. Sewaktu didirikan kembali tahun 1948, patung Hachik? diletakkan di bagian tengah halaman stasiun menghadap ke utara. Namun setelah dilakukan proyek perluasan halaman stasiun pada bulan Mei 1989, patung Hachik? dipindah ke tempatnya yang sekarang dan menghadap ke timur.

Film Hachik? Monogatari karya sutradara Seijir? K?yama mulai diputar di Jepang, Oktober 1987. Pada bulan berikutnya diresmikan patung Hachik? di kota kelahirannya, ?date. Monumen peringatan ulang tahun Hachik? ke-80 didirikan 12 Oktober 2003 di lokasi rumah kelahiran Hachik? di ?date. Sebuah drama spesial tentang Hachik? ditayangkan jaringan televisi Nippon Television pada tahun 2006. Drama sepanjang dua jam tersebut diberi judul Densetsu no Akitaken Hachi (Legenda Hachi si Anjing Akita). Pada tahun 2009 film Hachiko: A Dog’s Story[1] karya sutradara Lasse Hallström mulai diputar dan dibintangi oleh Richard Gere dan Joan Allen.

sumber: http://kask.us/3657621

History of Byzantium Empire


2010
03.29

tahun 395, ketika kaisar Romawi Theodosum I membagi kerajaan dan meletakkan anaknya Arcadius di kepala sisi Timur dan putranya yang lain Honorius di atas takhta sisi Barat, dia tidak bisa tahu apa efek jenis tindakan ini adalah untuk memiliki di masa depan. Kekaisaran Romawi Barat, dengan Honorius di kepalanya, adalah untuk memiliki hidup yang pendek. Kekaisaran Romawi yang Eastem Namun, untuk terakhir hampir seribu tahun sampai akhirnya diletakkan untuk diakhiri oleh Kekaisaran Ottoman Mehmed II, ketika dia menaklukkan kota Istanbul pada tahun 1453.

Kota Byzantium kemudian dipilih untuk menjadi ibu kota Kekaisaran Romawi Timur. Enam puluh lima tahun kemudian, nama kota ini diubah ke Konstantinopel untuk menghormati pendirinya, Konstantinus. Meskipun perubahan radikal ini dibuat dalam konsep kerajaan, Bizantium selalu menyebut diri mereka selama seribu tahun sejarah panjang sebagai Kekaisaran Romawi dan bangsa mereka sebagai bangsa Roma. Setelah runtuhnya kerajaan Namun, sejarawan mulai merujuk kepada kerajaan ini sebagai "Bizantium" Kekaisaran dan karena itu diingat hari ini. Kerajaan ini dimulai pada tahun 330 dan berlangsung hingga 1453, selama 1123 tahun. Sebuah perjuangan antara Islam dan Kristen mulai muncul pada Abad Pertengahan. Mereka dikenal sebagai prajurit Tentara Salib adalah contoh paling konkret dari perjuangan antara kedua agama besar.

Theodosius GreatThe perubahan yang paling penting dibuat ketika Kekaisaran Romawi berkembang menjadi Bizantium adalah perubahan dalam agama. Sementara Roma adalah masyarakat politeisme, monoteisme Bizantium diterima sebagai dasar keyakinan agama mereka. Perubahan terbesar kedua yang terjadi di kesultanan adalah perubahan dalam bahasa. Kekaisaran Romawi menggunakan beberapa bahasa, tetapi bahasa Latin adalah bahasa resmi dari pemerintah. Latin digunakan semakin kurang setelah pendirian Bizantium dan Yunani mulai mengambil tempatnya sebagai bahasa resmi. Tentu saja, perubahan ini juga membawa serta perubahan politik besar.

Kekaisaran Bizantium mulai dengan Kaisar Konstantin yang memerintah selama tiga belas tahun, total dari 88 kaisar untuk memerintah selama kekaisaran. Kaisar ini berasal dari berbagai garis keluarga. Kelompok terkemuka dari Heraklion, Suriah, Frigia, Macedonia, Commenos, Angelos, dan Palaiologos. Meskipun Bizantium mulai kerajaan mereka dengan wilayah yang luas tanah warisan dari Kekaisaran Romawi, mereka segera kehilangan wilayah di seluruh Eastem Utara dan Mediterania dan mereka menjadi sebuah kerajaan dengan wilayah Aegean umumnya. Pada saat keruntuhan Kekaisaran Bizantium hanya terdiri dari kota Istanbul dan sekitarnya langsung.

Area Kekuasaan byzantium

Indonesia Di Jajah Selama 3.5 Abad Karena Sebuah Buku


2010
03.26

Tahukah Anda bahwa karena sebuah bukulah maka bangsa Belanda bisa sampai di Nusantara dan melakukan penjajahan atas bumi yang kaya raya ini selama berabad-abad? Buku tersebut berjudul Itinerario naer Oost ofte Portugaels Indien , yang ditulis Jan Huygen van Linshoten di tahun 1595.

Inilah kisahnya:

Jauh sebelum Eropa terbuka matanya mencari dunia baru, warga pribumi Nusantara hidup dalam kedamaian. Situasi ini berubah drastis saat orang-orang Eropa mulai berdatangan dengan dalih berdagang, namun membawa pasukan tempur lengkap dengan senjatanya. Hal yang ironis, tokoh yang menggerakkan roda sejarah dunia masuk ke dalam kubangan darah adalah dua orang Paus yang berbeda. Pertama, Paus Urbanus II, yang mengobarkan perang salib untuk merebut Yerusalem dalam Konsili Clermont tahun 1096. Dan yang kedua, Paus Alexander VI.

Perang Salib tanpa disadari telah membuka mata orang Eropa tentang peradaban yang jauh lebih unggul ketimbang mereka. Eropa mengalami pencerahan akibat bersinggungan dengan orang-orang Islam dalam Perang Salib ini. Merupakan fakta jika jauh sebelum Eropa berani melayari samudera, bangsa Arab telah dikenal dunia sebagai bangsa pedagang pemberani yang terbiasa melayari samudera luas hingga ke Nusantara. Bahkan kapur barus yang merupakan salah satu zat utama dalam ritual pembalseman para Fir’aun di Mesir pada abad sebelum Masehi, didatangkan dari satu kampung kecil bernama Barus yang berada di pesisir barat Sumatera tengah.

Dari pertemuan peradaban inilah bangsa Eropa mengetahui jika ada satu wilayah di selatan bola dunia yang sangat kaya dengan sumber daya alamnya, yang tidak terdapat di belahan dunia manapun. Negeri itu penuh dengan karet, lada, dan rempah-rempah lainnya, selain itu Eropa juga mencium adanya emas dan batu permata yang tersimpan di perutnya. Tanah tersebut iklimnya sangat bersahabat, dan alamnya sangat indah. Wilayah inilah yang sekarang kita kenal dengan nama Nusantara. Mendengar semua kekayaan ini Eropa sangat bernafsu untuk mencari semua hal yang selama ini belum pernah didapatkannya.

Paus Alexander VI pada tahun 1494 memberikan mandat resmi gereja kepada Kerajaan Katolik Portugis dan Spanyol melalui Perjanjian Tordesillas. Dengan adanya perjanjian ini, Paus Alexander dengan seenaknya membelah dunia di luar daratan Eropa menjadi dua kapling untuk dianeksasi. Garis demarkasi dalam perjanjian Tordesilas itu mengikuti lingkaran garis lintang dari Tanjung Pulau Verde, melampaui kedua kutub bumi. Ini memberikan Dunia Baru—kini disebut Benua Amerika—kepada Spanyol. Afrika serta India diserahkan kepada Portugis. Paus menggeser garis demarkasinya ke arah timur sejauh 1.170 kilometer dari Tanjung Pulau Verde. Brazil pun jatuh ke tangan Portugis. Jalur perampokan bangsa Eropa ke arah timur jauh menuju kepulauan Nusantara pun terbagi dua. Spanyol berlayar ke Barat dan Portugis ke Timur, keduanya akhirnya bertemu di Maluku, di Laut Banda.

Sebelumnya, jika dua kekuatan yang tengah berlomba memperbanyak harta rampokan berjumpa tepat di satu titik maka mereka akan berkelahi, namun saat bertemu di Maluku, Portugis dan Sanyol mencoba untuk menahan diri. Pada 5 September 1494, Spanyol dan Portugal membuat perjanjian Saragossa yang menetapkan garis anti-meridian atau garis sambungan pada setengah lingkaran yang melanjutkan garis 1.170 kilometer dari Tanjung Verde. Garis itu berada di timur dari kepulauan Maluku, di sekitar Guam.
Sejak itulah, Portugis dan Spanyol berhasil membawa banyak rempah-rempah dari pelayarannya. Seluruh Eropa mendengar hal tersebut dan mulai berlomba-lomba untuk juga mengirimkan armadanya ke wilayah yang baru di selatan. Ketika Eropa mengirim ekspedisi laut untuk menemukan dunia baru, pengertian antara perdagangan, peperangan, dan penyebaran agama Kristen nyaris tidak ada bedanya. Misi imperialisme Eropa ini sampai sekarang kita kenal dengan sebutan “Tiga G”: Gold, Glory, dan Gospel. Seluruh penguasa, raja-raja, para pedagang, yang ada di Eropa membahas tentang negeri selatan yang sangat kaya raya ini. Mereka berlomba-lomba mencapai Nusantara dari berbagai jalur. Sayang, saat itu belum ada sebuah peta perjalanan laut yang secara utuh dan detil memuat jalur perjalanan dari Eropa ke wilayah tersebut yang disebut Eropa sebagai Hindia Timur. Peta bangsa-bangsa Eropa baru mencapai daratan India, sedangkan daerah di sebelah timurnya masih gelap.

Dibandingkan Spanyol, Portugis lebih unggul dalam banyak hal. Pelaut-pelaut Portugis yang merupakan tokoh-tokoh pelarian Templar (dan mendirikan Knight of Christ), dengan ketat berupaya merahasiakan peta-peta terbaru mereka yang berisi jalur-jalur laut menuju Asia Tenggara. Peta-peta tersebut saat itu merupakan benda yang paling diburu oleh banyak raja dan saudagar Eropa. Namun ibarat pepatah, “Sepandai-pandainya tupai melompat, akhirnya jatuh juga”, maka demikian pula dengan peta rahasia yang dipegang pelaut-pelaut Portugis. Sejumlah orang Belanda yang telah bekerja lama pada pelaut-pelaut Portugis mengetahui hal ini. Salah satu dari mereka bernama Jan Huygen van Linschoten. Pada tahun 1595 dia menerbitkan buku berjudul Itinerario naer Oost ofte Portugaels Indien, Pedoman Perjalanan ke Timur atau Hindia Portugis, yang memuat berbagai peta dan deksripsi amat rinci mengenai jalur pelayaran yang dilakukan Portugis ke Hindia Timur, lengkap dengan segala permasalahannya.

Buku itu laku keras di Eropa, namun tentu saja hal ini tidak disukai Portugis. Bangsa ini menyimpan dendam pada orang-orang Belanda. Berkat van Linschoten inilah, Belanda akhirnya mengetahui banyak persoalan yang dihadapi Portugis di wilayah baru tersebut dan juga rahasia-rahasia kapal serta jalur pelayarannya. Para pengusaha dan penguasa Belanda membangun dan menyempurnakan armada kapal-kapal lautnya dengan segera, agar mereka juga bisa menjarah dunia selatan yang kaya raya, dan tidak kalah dengan kerajaan-kerajaan Eropa lainnya.

Pada tahun 1595 Belanda mengirim satu ekspedisi pertama menuju Nusantara yang disebutnya Hindia Timur. Ekspedisi ini terdiri dari empat buah kapal dengan 249 awak dipimpin Cornelis de Houtman, seorang Belanda yang telah lama bekerja pada Portugis di Lisbon. Lebih kurang satu tahun kemudian, Juni 1596, de Houtman mendarat di pelabuhan Banten yang merupakan pelabuhan utama perdagangan lada di Jawa, lalu menyusur pantai utaranya, singgah di Sedayu, Madura, dan lainnya. Kepemimpinan de Houtman sangat buruk. Dia berlaku sombong dan besikap semaunya pada orang-orang pribumi dan juga terhadap sesama pedagang Eropa. Sejumlah konflik menyebabkan dia harus kehilangan satu perahu dan banyak awaknya, sehingga ketika mendarat di Belanda pada tahun 1597, dia hanya menyisakan tiga kapal dan 89 awak. Walau demikian, tiga kapal tersebut penuh berisi rempah-rempah dan benda berharga lainnya.

Orang-orang Belanda berpikiran, jika seorang de Houtman yang tidak cakap memimpin saja bisa mendapat sebanyak itu, apalagi jika dipimpin oleh orang dan armada yang jauh lebih unggul. Kedatangan kembali tim de Houtman menimbulkan semangat yang menyala-nyala di banyak pedagang Belanda untuk mengikut jejaknya. Jejak Houtman diikuti oleh puluhan bahkan ratusan saudagar Belanda yang mengirimkan armada mereka ke Hindia Timur. Dalam tempo beberapa tahun saja, Belanda telah menjajah Hindia Timur dan hal itu berlangsung lama hingga baru merdeka pada tahun 1945.

Fakta aneh 6 orang Legenda Dunia


2010
03.25

Fakta aneh 6 orang Legenda Dunia.

1. Kubilai Khan

Spoiler for Pict:

Yup, kaisar Mongol yang sangat kejam dan ekspansif ini ternyata memiliki sisi toleransi yang sangat tinggi. Percaya tidak, Kubilai Khan adalah tokoh pemimpin dunia pertama yang menyatakan bahwa hari-hari besar agama Buddha, Kristen, Yahudi, dan Islam dijadikan sebagai hari libur resmi kenegaraan. Asal tahu saja gan, Kubilai Khan adalah cucu dari Genghis Khan yang sangat legendaris itu yang memiliki kekuasaan yang merentang dari perbatasan Eropa, Timur Tengah, hingga hampir seluruh Asia Timur pada abad ke-13. Dengan kata lain, hari libur resmi kenegaraan pada tiap hari besar agama di dunia memang memungkinkan untuk dilakukan oleh Kubilai Khan karena luasnya wilayah kekuasaannya.

2. Galileo Galilei

Spoiler for Pict:

memang manusia yang kurang beruntung selama hidupnya. Bahkan setelah mati sekalipun, Galileo tetap mengalami kesulitan. Setelah pandangan-pandangan ilmiahnya soal tata surya membuat dirinya berurusan dengan pihak gereja, kematiannya pun dirundung masalah. Saat kematiannya pada tahun 1642, jasadnya tidak langsung dikubur, tapi tetap disimpan hingga tahun 1737, kira-kira hampir seabad. Tak cukup hanya itu, sebelum dikubur di Gereja Santa Croce, Florence, Italia, seorang bangsawan tega memotong tiga jari Galileo sebagai kenang-kenangan. Dua dari jari itu kemudian dimiliki oleh seorang dokter Italia, dan jari ketiga-sepotong jari tengah-saat ini berada di Museum Sejarah Ilmu Pengetahuan di Florence, Italia, dipajang menunjuk ke langit di atas tiang marmer.

3. Abraham Lincoln

Spoiler for Pict:

Tahun 1831 dia mengalami kebangkrutan dalam usahanya. Tahun 1832 dia menderita kekalahan dalam pemilihan tingkat lokal. Tahun 1833 dia kembali bangkrut (kasian banget ya..). Tahun 1835 istrinya meninggal dunia. Tahun 1836 dia menderita tekanan mental yang sangat berat dan hampir saja masuk rumah sakit jiwa. Tahun 1837, dia kalah dalam suatu kontes pidato. Tahun 1840, ia gagal dalam pemilihan anggota senat AS. Tahun 1842, dia menderita kekalahan untuk duduk di dalam kongres AS. Tahun 1848 ia kalah lagi di kongres. Tahun 1855, lagi-lagi gagal di senat. Tahun 1856 ia kalah dalam pemilihan untuk menduduki kursi wakil presiden. Tahun 1858 ia kalah lagi di senat. Tahun 1860 akhirnya dia menjadi presiden Amerika Serikat. Siapakah dia? Dialah Abraham Lincoln . Intinya adalah jangan pernah menyerah dengan berbagai kegagalan yang pernah dialami, bahkan seberat apapun cobaan itu. Coba dan coba lagi!

4. Johannes Brahms

Spoiler for Pict:

Kalau ada yang mengatakan bahwa seorang yang bergelut di bidang seni memiliki perasaan yang halus, maka cobalah baca fakta berikut ini. Johannes Brahms (1833-1897), komposer besar Jerman, adalah salah seorang yang sangat membenci binatang.
Di kala santai atau sedang mencari inspirasi, komposer ini sering pergi ke loteng rumahnya dan mempersiapkan busur dan anak panah.
Di sana hampir tiap waktu ia memanah kucing-kucing milik tetangganya. Kebiasaan buruk ini terus dilakukannya hingga sepanjang hidupnya!

5. Napoleon Bonaparte

Spoiler for Pict:

Napoleon Bonaparte, saat berperang di Timur Tengah tahun 1799 bermaksud melepaskan 1200 tentara Turki yang berhasil ditawan Perancis, ketika Perancis berhasil merebut Jaffa. Saat itu Napoleon sedang terserang influenza. Saat menginspeksi pasukan, Napoleon terserang batuk berat hingga ia mengatakan Ma sacre toux (Batuk sialan).
Perwira pendamping Napoleon merasa sang jenderal mengatakan Massacrez Tous (Bunuh semua). Akibatnya, seluruh 1200 orang tawanan Turki itu dibunuh. Hanya karena batuk sang jenderal dan kuping perwira yang BUNYAK!

6. Wilhelm Steinitz

Spoiler for Pict:

Di masa jayanya, Wilhelm Steinitz adalah salah satu pemain catur paling cemerlang di dunia . Namun saat semakin tua, ia secara perlahan-lahan dijangkiti kegilaan, dan sering merasa bahwa ia dapat menelepon seseorang tanpa menggunakan telepon, ataupun bermain catur tanpa menyentuh bidak. Puncak kegilaannya terjadi saat Steinitz mengumumkan kepada masyarakat luas bahwa ia hendak menantang Tuhan untuk bermain catur. Lebih parah lagi, ia menawarkan fur satu bidak dalam pertandingan ini!

Three Kingdom – Siapa saja jendral yang dapat dikatakan pemberontak?


2010
03.23

Hmm menurut ane sih hampir semua raja dalam era 3 negara di Cina itu pemberontak, hanya saja cara mereka terang terangan atau tidak..

Jendral2 yang memberontak secara terang2an misalnya:

- Zhang Jiao yang menginginkan kekaisaran untuk dirinya sendiri
- Dong Zhuo yang menggulingkan kaisar Bian dan digantikan dengan pangeran Xian
- Yuan Shu yang terang2an berambisi menjadi kaisar setelah memperoleh stempel kekaisaran
- Cao Pi yang menggulingkan kaisar Xian dan mengangkat dirinya sendiri menjadi kaisar Cao Wei

Sedangkan raja2 lain diera itu menurut ane banyak juga yang mungkin ingin menguasai kekaisaran, hanya saja mereka tidak mengumbarnya terang terangan. Buktinya banyak sekali perang perebutan tanah di era itu, padahal jika mereka setia terhadap kaisar, seharusnya mereka hidup berdamai dan jangan merebut daerah orang lain. Mereka butuh tanah artinya mereka juga ingin kekayaan dan kekuasaan lebih banyak lagi, jika daerah mereka makin besar mungkin mereka juga akhirnya ingin menguasai kekaisaran, contohnya :

- Cao Cao yang menginginkan dan menyerang daerah Wu yang dimiliki Sun Quan
- Sun Quan yang ingin mendapatkan Jing Zhou yang dimiliki Liu Bei
- Liu Bei yang ingin mendapatkan Yi Zhou yang dimiliki Liu Zhang
- Yuan Shao yang ingin merebut daerah Gongsun Zan

Dan masih banyak lagi

Raja yang menurut ane bukan pemberontak:

- Zhang Lu : penjaga kekaisaran daerah Han Zhong
- Liu Zhang : penjaga kekaisaran daerah Shu
- Tao Qian : penjaga kekaisan daerah Xia Kou.

sumber: http://kask.us/3648917


Plugintaylor.com

Sponsored Listings