Pemberian seorang anak
Dikisahkan sebuah keluarga yang berkecukupan tinggal di sebuah rumah mewah di kawasan kompleks yang cukup elit. Keluarga itu terdiri dari sepasang suami istri dan seorang anak tunggal kesayangan mereka.
Sang suami masih memiliki ayah ibu yang rumahnya tak begitu jauh dari rumah mereka. Dan mereka sering menyambanginya untuk mengantar makanan bagi keduanya.
Zaman bertukar dan berganti seiring berjalannya waktu. Sang anak telah dewasa dan berkeluarga. Sedangkan ayah ibunya menikmati hari tuanya di sebuah rumah sederhana yang terletak beberapa kilometer dari rumah anak tersebut. Sang anak pun ingin berbakti pada mereka dengan sering mengunjunginya mengantar makanan dan kebutuhan lain. Namun, suatu hari ada sebuah keributan kecil.
Ayah : “Nak, apakah kau tak menyayangi kami yang sejak kau lahir telah kami rawat hingga dewasa?”
Sang anak terkaget.
Anak : “Duhai ayahku, mengapa kau berkata begitu? Aku sangat menyayangimu.”
Ayah : “Kalau begitu mengapa kau memberi makanan seperti ini? Padahal aku yakin kamu mampu memberiku lebih dari ini.”
Dengan mata berkaca-kaca, sang anak berkata.
Anak : “Maafkan aku duhai ayahku. Aku hanya belajar darimu. Lupakah engkau bagaimana dulu kau mengajariku memberi makanan yang tak kita suka dan tak kita makan pada kakek dan nenek? Hingga aku berpikir, bahwa memberi itu adalah menyerahkan sesuatu yang tak kita suka pada orang lain.”Sang ayah terdiam dan teringatlah ia pada waktu dulu. Dia baru merasakan menjadi ayah ibunya saat itu. Tapi yang sungguh luar biasa, ayah ibunya cukup sabar dan menerima pemberiannya. Ah, sayang semua telah berlalu. Tinggal penyesalan yang dia miliki.
Siapa sangka, kejadian di atas benar-benar ada dan terjadi tanpa kita sadari. Ada beberapa butir hikmah yang bisa kita eja disini.
Pertama, adalah pendidikan. Keluarga, lebih tepatnya ayah dan ibu bertanggung jawab penuh akan pembentukan pola pikir sang anak. Jika dari keluarga, sang anak sudah cukup dididik dengan baik dan santun.
Sekeras dan seburuk apapun lingkungannya nanti, dia sudah memiliki perisai maha dahsyat yang sudah diberikan padanya sedari kecil. Dan dia akan lebih kuat menghadapinya. Oleh karena itu, perlu dan sangat penting sekali pendidikan dalam keluarga itu. Karena sang anak memang banyak belajar dari lingkungan terdekatnya, Yaitu keluarga.
Kedua, prinsip memberi. Anyway, saya yakin, prinsip seperti cerita di atas memang nyata adanya. Sering kita memberikan barang kita pada orang lain karena kita tidak membutuhkannya, atau kita tidak menyukainya, atau kita sudah bosan dan lain-lain. Padahal prinsip memberi yang benar adalah “berikanlah yang terbaik dan yang paling kita sayangi untuk orang lain”. Karena siapa yang menabur dia yang menuai. Siapa yang memberi yang baik-baik, akan mendapat/menerima yang baik-baik pula,
Sekian dari saya, mari kita renungi bersama.
5 respon untuk “Pemberian seorang anak”
Manginfera.NET berkata:
January 11th, 2010 at 10:44 am
Pertamax dulu ahh…
Kita baru menyadarinya saat kita merasakanya sendiri, apakah itu disebut karma?
Pendidikan paling mendasar adalah iman dan akhlak, yang saat ini hanya sebagai pelengkap kurikulum di sekolah-sekolah.
Menurut saya pembentukan karakter dimulai dari lingkungan terdekat dahulu yakni keluarga.
hanif IM berkata:
January 11th, 2010 at 11:26 pm
bener2, tapi bukan tidak mungkin jik sifat itu dirubah walau sudah dewasa…
hanif IM´s last blog ..10 Negara Terkaya
topanz berkata:
January 13th, 2010 at 3:59 pm
wkekeke.. buah jth tdk jauh dari pohonnya..
Pesepeda Penyelamat Bumi berkata:
January 21st, 2010 at 8:21 am
ini cerita yang menarik.
tapi siapakah yang memutus mata rantai itu? apakah sang anak tsb akan mengajarkan hal yang sama pada anaknya?
Crenk berkata:
January 23rd, 2010 at 11:19 am
Kunjungan perdana 2010 juga nih…
Keren banget…
Makasih udah berbagi…
Semakin banyak saja orang yang mengingatkanQ untuk berbuat lebih baik lagi…
Crenk´s last blog ..4 Cara Meraih Mimpi