Sepenggal kisah nyata
Tubuhnya yang kering kerontang terseok merayapi koridor kelas. Matanya yang kuyu tampak semakin sayu dan kosong. Pikirannya mengambang. Hatinya perih menahan beban.
Belum lama tadi, dia dan seluruh teman sekelasnya diwanti-wanti wali kelasnya untuk segera melunasi uang SPP dan uang gedung sebagai syarat mengikuti UAS.
Mungkin bagi sebagian temannya yang rata-rata menengah ke atas, uang sejuta dua juta tak begitu membebani. Meski nama mereka ada di daftar golongan siswa yang belum lunas. Tapi sesungguhnya jauh-jauh hari uang yang diamanahkan orang tuanya untuk dibayarkan itu, hanya berakhir di mall-mall, cafe-cafe atau warnet game online.
Sedangkan dirinya? Dia bukan termasuk mereka. Dia hanya seorang anak yatim piatu yang hidup dari rizkiNYA yang sering datang tanpa diduga.
Dia jarang menikmati jajan di sekolahnya. Dia memilih menahan lapar dan dahaganya, kemudian menghemat uang sakunya yang tak seberapa untuk naik bis esok harinya.
Saat diceritakan pada kakaknya, mereka berdua cuma bisa terdiam membisu. Masing-masing menikmati kepiluan itu. Hati mereka bergemuruh hebat. Menggapai-gapai kemurahanNYA.
Sepertiga malam terasa mengharukan dengan tetes airmata diantara doa kedua kakak beradik itu.
“Bantulah kami, Robb. Hanya padaMU lah kami memohon dan hanya padaMU lah kami meminta. Limpahilah kami kesabaran yang tak terhingga, Ya Robb. Amin..”
Hari demi hari berlalu dengan gamangnya. Sedangkan sebentar lagi batas pembayarannya segera datang.
Namun mereka belum nendapat solusi. Uang 2,8 juta tergolong angka yang cukup fantastis buat mereka. Sedangkan sehari-harinya mereka makan cuma sekali atau dua kali dengan lauk yang itu-itu saja. Bahkan sering mereka menahan lapar seharian penuh.
Tepat di hari itu, namanya dipanggil. Wajahnya pucat pasi menahan semua gejolak di dadanya. Ingin rasanya dia berteriak. Namun rupanya Alloh mendengar doanya. Dia tercatat telah lunas membayarnya, walau tak sepeser pun rupiah dia keluarkan. Semangat belajar kembali berkobar di hatinya. Rupanya dia dan seorang temannya yang kurang mampu mendapat bantuan dari komite sekolah.
“Engkau memang Maha Baik. Tak akan pernah ku ragukan itu.” bisiknya.
Satu respon untuk “Sepenggal kisah nyata”
topanz berkata:
January 6th, 2010 at 3:50 pm
1 ikhlas
2 bersyukur